SUNGAI
pada riak-riak wajahmu
ada kanak-kanak mengukir pelangi
dengan butiran bebuih yang mewarna
dan rerumput yang mengoles cerita
di atas kanvas alam
di hamparan bebatu besar kecil
ada ceria perawan-perawan membasuh kain
di antara cerita tentang kumbang-kumbang
yang merayu kembang-kembang
di halaman
pada ikan-ikan yang mengejar umpan
ada harapan para pemancing
tentang rejeki hari ini
dan keluh tentang sisa beras
untuk esok lusa
tentang ceria kanak-kanak,
cerita perawan-perawan
keluh hidup para pemancing, engkau adalah pendengar setia
hingga kini kisah terus menoreh tinta kelam di wajahmu
pada riak-riakmu, berjuta kubik sampah keserakahan berserakan
melumuri dan menyesakkan hirup napas bebuih
bebatu besar kecil merintih berkeping-keping
dipalu pesanan istana impian di kota-kota besar
pun pepasir meluruh pedih dari garis bibirmu
ikan-ikan mengunyah sobekan limbah plastik
dan para pemancing berkeluh tentang beras penuh kutu
dan ikan-ikan yang mati di pinggir sungai
tentang cerita kanak-kanak, cerita perawan-perawan
keluh hidup para bapak, sekali lagi:
engkau tetap pendengar setia
Tangerang, 15 Maret 2015
(Dimuat di antologi Arus Sungai,
Tuas Media Publisher, Kalsel, 2016)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar