TIDURLAH, NAK
Sudah larut, bayiku tak juga pejamkan mata
Bola kristalnya berputar melawan arah jarum jam
Semakin bulat matanya semakin merapat mataku
Nak, tidurlah! Tak perlu membaca pikiran bapakmu
Tak perlu tahu bapakmu hutang susu di warung Bu Mumu
Sudah larut, bayiku tak juga bermimpi
Senyumnya mengaluni irama nina boboku
Semakin lebar senyumnya semakin perih rasaku
Nak tidurlah! Tak perlu tersenyum manis seperti itu
Tak perlu tahu tadi sore ibumu merengek tambahan jatah uang dapur
Tidurlah, Nak!
Tak perlu bermimpi : besok kemana lagi bapakmu cari hutangan.
Tangerang, 31-5-2016
Dikirim ke antologi Sakkarepmu, Agustus 2016
Minggu, 14 Agustus 2016
Sabtu, 13 Agustus 2016
Puisi Alam
TANAH AIR LELUHUR
tanah dan air dikuasai oleh negara
dan digunakan sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyat
itulah kalimat sakti yang termaktub dalam undang-undang negeri kami
ajian para pendiri negeri pengusir setan kapitalis imperialis
tekad kuat para pemuda yang bersumpah tumpah darah satu
mantra pengikat nusantara di bawah sumpah palapa
tapi apa benar kalimat itu masih sakti?
syahdan, ratusan abad setelah gajah mada moksa
setelah hampir seabad sumpah pemuda menua
sesudah puluhan tahun negeri kami katanya merdeka
konon, kalimat itu tidaklah sakti lagi
tanah leluhur kami yang bersawah-sawah dan berlurah-lurah
berganti bangunan pabrik berasap-asap dan berlimbah-limbah
tanah leluhur kami yang berhektar-hektar dan bergirik-girik
bersulap apartemen mewah bersertifikat asing hak milik
di tanah leluhur kami bebas bergerak bertindak
di tanah leluhur kami tuan bukan budak
tapi sekarang di tanah kontrak kami berhimpit sesak
di tanah kontrak kami benar-benar jadi budak
dan air leluhur pun tidak lagi jadi milik rakyat
air jernih pegunungan disedot ke mobil tangki
berkubik-kubik mereka disekap dalam botol gelas plastik
dan wajib ditebus oleh rakyat
lalu ratusan dolar memenuhi rekening
bos-bos asing yang ongkang-ongkang girang
jauh dari nusantara kami
air murah untuk rakyat
adalah sulingan sungai yang melimbah-limbah
air murah untuk rakyat
adalah kekuningan dan berbau-bau busuk
air rakyat adalah mata air dari toilet konglomerat
air rakyat adalah air mata jelata melarat
o, tanah leluhurku dirampas kapitalis imperialis
air leluhurku disedot habis mulut-mulut konglomerat
kembalikan tanah leluhurku
kembailikan mata airku
kembalikan tanah air leluhurku
kembalikan!
10-11-'13
Dimuat di majalah Medika BDK Kemenag
2013
tanah dan air dikuasai oleh negara
dan digunakan sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyat
itulah kalimat sakti yang termaktub dalam undang-undang negeri kami
ajian para pendiri negeri pengusir setan kapitalis imperialis
tekad kuat para pemuda yang bersumpah tumpah darah satu
mantra pengikat nusantara di bawah sumpah palapa
tapi apa benar kalimat itu masih sakti?
syahdan, ratusan abad setelah gajah mada moksa
setelah hampir seabad sumpah pemuda menua
sesudah puluhan tahun negeri kami katanya merdeka
konon, kalimat itu tidaklah sakti lagi
tanah leluhur kami yang bersawah-sawah dan berlurah-lurah
berganti bangunan pabrik berasap-asap dan berlimbah-limbah
tanah leluhur kami yang berhektar-hektar dan bergirik-girik
bersulap apartemen mewah bersertifikat asing hak milik
di tanah leluhur kami bebas bergerak bertindak
di tanah leluhur kami tuan bukan budak
tapi sekarang di tanah kontrak kami berhimpit sesak
di tanah kontrak kami benar-benar jadi budak
dan air leluhur pun tidak lagi jadi milik rakyat
air jernih pegunungan disedot ke mobil tangki
berkubik-kubik mereka disekap dalam botol gelas plastik
dan wajib ditebus oleh rakyat
lalu ratusan dolar memenuhi rekening
bos-bos asing yang ongkang-ongkang girang
jauh dari nusantara kami
air murah untuk rakyat
adalah sulingan sungai yang melimbah-limbah
air murah untuk rakyat
adalah kekuningan dan berbau-bau busuk
air rakyat adalah mata air dari toilet konglomerat
air rakyat adalah air mata jelata melarat
o, tanah leluhurku dirampas kapitalis imperialis
air leluhurku disedot habis mulut-mulut konglomerat
kembalikan tanah leluhurku
kembailikan mata airku
kembalikan tanah air leluhurku
kembalikan!
10-11-'13
Dimuat di majalah Medika BDK Kemenag
2013
Puisi Alam
NEGERI LAUT
Adakah yang tak bisa dinikmati
Dari sebuah negeri bernama laut?
Terumbu karangnya adalah surga para ikan
Airnya adalah emas putih para petani rasa
Rumputnya adalah racikan mutu para peramu
Adakah yang tak bisa dinikmati
Dari sebuah negeri bernama laut?
Ikannya adalah rejeki jutaan para nelayan
Kerangnya adalah hiasan cantik para pengrajin
Karangnya adalah dinding kokoh istana kerajaan
Adakah yang tak bisa dinikmati
Dari sebuah negeri bernama laut?
Anginnya adalah laju dapur para pelaut
Ombaknya adalah landasan pacu peselancar
Pasirnya adalah senyum ceria desir hari para pelesir
Adakah yang tak bisa dinikmati
Dari sebuah negeri bernama laut?
30-5-2016
Dikirim ke antologi puisi Negeri Awan
Adakah yang tak bisa dinikmati
Dari sebuah negeri bernama laut?
Terumbu karangnya adalah surga para ikan
Airnya adalah emas putih para petani rasa
Rumputnya adalah racikan mutu para peramu
Adakah yang tak bisa dinikmati
Dari sebuah negeri bernama laut?
Ikannya adalah rejeki jutaan para nelayan
Kerangnya adalah hiasan cantik para pengrajin
Karangnya adalah dinding kokoh istana kerajaan
Adakah yang tak bisa dinikmati
Dari sebuah negeri bernama laut?
Anginnya adalah laju dapur para pelaut
Ombaknya adalah landasan pacu peselancar
Pasirnya adalah senyum ceria desir hari para pelesir
Adakah yang tak bisa dinikmati
Dari sebuah negeri bernama laut?
30-5-2016
Dikirim ke antologi puisi Negeri Awan
Puisi Alam
KISAH NEGERI AWAN
Kisahkan, kisahkanlah kepada anak-anak
Yang bermain ceria di halaman rumah kita
Tentang indahnya paduan warna di kanvas raya
Kisahkan juga, genangan di got dan kolam
Yang melayang perlahan merupa mendung
Lalu meneteskan berkah kesuburan di persada
Kisahkan pula, ruang-ruang kosong itu
Adalah perisai diri sang bumi dari kemilau sang surya
Dan di bawahnya, anak cucu kita asyik bermain kelereng
Kelak dewasa, mereka akan mereka-reka kembali
Tentang hikmah sang kisah negeri awan
Tentang keindahan, kesabaran, dan kesetiaan
Dan kelak, mereka akan turun-temurun mengisahkannya.
Tangerang, 31-5-2016
Dikirim ke antologi puisi Kisah Negeri Awan, Mei 2016
Kisahkan, kisahkanlah kepada anak-anak
Yang bermain ceria di halaman rumah kita
Tentang indahnya paduan warna di kanvas raya
Kisahkan juga, genangan di got dan kolam
Yang melayang perlahan merupa mendung
Lalu meneteskan berkah kesuburan di persada
Kisahkan pula, ruang-ruang kosong itu
Adalah perisai diri sang bumi dari kemilau sang surya
Dan di bawahnya, anak cucu kita asyik bermain kelereng
Kelak dewasa, mereka akan mereka-reka kembali
Tentang hikmah sang kisah negeri awan
Tentang keindahan, kesabaran, dan kesetiaan
Dan kelak, mereka akan turun-temurun mengisahkannya.
Tangerang, 31-5-2016
Dikirim ke antologi puisi Kisah Negeri Awan, Mei 2016
Puisi Alam
MONOLOG DAUN
jika ada tangkai yang meranggas dengan kulit kelupas
kepada siapa aku menulis surat tentang perih menahun ini
jika ada batang menghitam di antara kepulan asap kelam
kepada siapa aku kirimkan tanya tentang penanggung laku
dan angin terik berdesau di antara renjai yang kering:
tak ada pemberi alamat tak ada pemberi jawab
lupakan saja kisah keluh pedih perih ini
bertahun bahkan berabad peradaban
kami harus setia menjalani takdir
sebagai penanggung luka
biarkan kami meregang
lalu mati.
Tangerang, 5-7-2016
Dimuat di antologi puisi Peduli Hutan
Tuas Media Publisher, Kalimantan Selatan
Agustus 2016
jika ada tangkai yang meranggas dengan kulit kelupas
kepada siapa aku menulis surat tentang perih menahun ini
jika ada batang menghitam di antara kepulan asap kelam
kepada siapa aku kirimkan tanya tentang penanggung laku
dan angin terik berdesau di antara renjai yang kering:
tak ada pemberi alamat tak ada pemberi jawab
lupakan saja kisah keluh pedih perih ini
bertahun bahkan berabad peradaban
kami harus setia menjalani takdir
sebagai penanggung luka
biarkan kami meregang
lalu mati.
Tangerang, 5-7-2016
Dimuat di antologi puisi Peduli Hutan
Tuas Media Publisher, Kalimantan Selatan
Agustus 2016
Minggu, 07 Agustus 2016
Puisi Alam
SALAM DARI KAMI
jika kau tebang ratusan rumah pohon kami
di manakah anak-cucu kami kelak berayun
berloncatan, bahkan terkadang terjatuh
mereka begitu polos tak pernah paham masa depan
tak ambil pusing masalah berat yang menimpa
yang mereka pikirkan adalah bermain dan makan
bermain di atas dedaun rimba raya dan menikmati
hidangan berkah alam raya di bawah kucuran hujan
mereka tidak seperti kami para orang tua yang meratap
meratap pada nasib meratap pada hukum alam keseimbangan
ya, kami telah banyak makan buah kesabaran atas tumbangnya
rumah-rumah harapan kami yang digergaji mesin, dibelah, dihiris
lalu dibawa ke kota-kota peradaban yang melindunghangatkan
anak-anak para penghuninya begitu cinta dan mesra
sedangkan anak-anak cucu kami terpasung di batang hitam
tertusuk asap tebal, terkapar mengerang di hamparan arang.
salam dari kami,
Para monyet
Para burung
Para semut
Para satwa.
- Tangerang, 7 Juli 2016
Puisi untuk antologi Lumbung Puisi IV
jika kau tebang ratusan rumah pohon kami
di manakah anak-cucu kami kelak berayun
berloncatan, bahkan terkadang terjatuh
mereka begitu polos tak pernah paham masa depan
tak ambil pusing masalah berat yang menimpa
yang mereka pikirkan adalah bermain dan makan
bermain di atas dedaun rimba raya dan menikmati
hidangan berkah alam raya di bawah kucuran hujan
mereka tidak seperti kami para orang tua yang meratap
meratap pada nasib meratap pada hukum alam keseimbangan
ya, kami telah banyak makan buah kesabaran atas tumbangnya
rumah-rumah harapan kami yang digergaji mesin, dibelah, dihiris
lalu dibawa ke kota-kota peradaban yang melindunghangatkan
anak-anak para penghuninya begitu cinta dan mesra
sedangkan anak-anak cucu kami terpasung di batang hitam
tertusuk asap tebal, terkapar mengerang di hamparan arang.
salam dari kami,
Para monyet
Para burung
Para semut
Para satwa.
- Tangerang, 7 Juli 2016
Puisi untuk antologi Lumbung Puisi IV
Sabtu, 06 Agustus 2016
Puisi Alam
PENADAH DUKA
Navys Ahmad
sewaktu sayatan menoreh luka
tak ada teriak nyeri meleleh kata
sewaktu limbah panas merayapi tubuh
tak ada geliat resah dan keluh
sewaktu merah bara menyisakan kisah pedih
tak ada amarah tak ada ratap meringkih
bahkan sewaktu insan menitipkan jasad duka
tak ada celah tertutup tak ada dengki di jiwa
tak teriak, tak mengeluh ia
tak meringkih, tak mendengki ia
tanah pasrah pada kodrat: menjadi penadah duka
Tangerang, Juni 2016
Dimuat di antologi Sajak-sajak Anak Negeri, True Indonesian Rhyme Legion, Bogor
Navys Ahmad
sewaktu sayatan menoreh luka
tak ada teriak nyeri meleleh kata
sewaktu limbah panas merayapi tubuh
tak ada geliat resah dan keluh
sewaktu merah bara menyisakan kisah pedih
tak ada amarah tak ada ratap meringkih
bahkan sewaktu insan menitipkan jasad duka
tak ada celah tertutup tak ada dengki di jiwa
tak teriak, tak mengeluh ia
tak meringkih, tak mendengki ia
tanah pasrah pada kodrat: menjadi penadah duka
Tangerang, Juni 2016
Dimuat di antologi Sajak-sajak Anak Negeri, True Indonesian Rhyme Legion, Bogor
Puisi Alam
SUNGAI
pada riak-riak wajahmu
ada kanak-kanak mengukir pelangi
dengan butiran bebuih yang mewarna
dan rerumput yang mengoles cerita
di atas kanvas alam
di hamparan bebatu besar kecil
ada ceria perawan-perawan membasuh kain
di antara cerita tentang kumbang-kumbang
yang merayu kembang-kembang
di halaman
pada ikan-ikan yang mengejar umpan
ada harapan para pemancing
tentang rejeki hari ini
dan keluh tentang sisa beras
untuk esok lusa
tentang ceria kanak-kanak,
cerita perawan-perawan
keluh hidup para pemancing, engkau adalah pendengar setia
hingga kini kisah terus menoreh tinta kelam di wajahmu
pada riak-riakmu, berjuta kubik sampah keserakahan berserakan
melumuri dan menyesakkan hirup napas bebuih
bebatu besar kecil merintih berkeping-keping
dipalu pesanan istana impian di kota-kota besar
pun pepasir meluruh pedih dari garis bibirmu
ikan-ikan mengunyah sobekan limbah plastik
dan para pemancing berkeluh tentang beras penuh kutu
dan ikan-ikan yang mati di pinggir sungai
tentang cerita kanak-kanak, cerita perawan-perawan
keluh hidup para bapak, sekali lagi:
engkau tetap pendengar setia
Tangerang, 15 Maret 2015
(Dimuat di antologi Arus Sungai,
Tuas Media Publisher, Kalsel, 2016)
pada riak-riak wajahmu
ada kanak-kanak mengukir pelangi
dengan butiran bebuih yang mewarna
dan rerumput yang mengoles cerita
di atas kanvas alam
di hamparan bebatu besar kecil
ada ceria perawan-perawan membasuh kain
di antara cerita tentang kumbang-kumbang
yang merayu kembang-kembang
di halaman
pada ikan-ikan yang mengejar umpan
ada harapan para pemancing
tentang rejeki hari ini
dan keluh tentang sisa beras
untuk esok lusa
tentang ceria kanak-kanak,
cerita perawan-perawan
keluh hidup para pemancing, engkau adalah pendengar setia
hingga kini kisah terus menoreh tinta kelam di wajahmu
pada riak-riakmu, berjuta kubik sampah keserakahan berserakan
melumuri dan menyesakkan hirup napas bebuih
bebatu besar kecil merintih berkeping-keping
dipalu pesanan istana impian di kota-kota besar
pun pepasir meluruh pedih dari garis bibirmu
ikan-ikan mengunyah sobekan limbah plastik
dan para pemancing berkeluh tentang beras penuh kutu
dan ikan-ikan yang mati di pinggir sungai
tentang cerita kanak-kanak, cerita perawan-perawan
keluh hidup para bapak, sekali lagi:
engkau tetap pendengar setia
Tangerang, 15 Maret 2015
(Dimuat di antologi Arus Sungai,
Tuas Media Publisher, Kalsel, 2016)
Puisi Alam
MONOLOG PARA PEMBANGUN
RUMAH TANAH
saudara-saudara bangsa manusia
berjuta tahun lalu kami membangun rumah tanah
di alas warisan nenek moyang ratu induk
rumah yang menumbuh dari ludah-ludah
yang merekat kuat bertingkat-tingkat
berkamar-kamar yang di dalamnya
kami bertelur, beranak-pinak
cucu-mencucu, cicit-mencicit.
berjuta tahun lalu kami bahu-membahu
kaki-mengkaki, tangan-menangan
dalam racauan kemelut suara alam
dalam tiupan hujan tarian topan
rumah kami tak hancur
rumah kami hanya merapuh.
di alas ini kami taat beribadah
melaksanakan perintah tuhan
menggigit, memotong, menggotong
mengumpulkan remah-remah pohon
tak ada yang menyembunyikan
tak ada yang mengambil hak bersama
tak ada yang menyakiti saudara.
saudara-saudara bangsa manusia
kami yang bicara sekarang
adalah generasi cicit jutaan tahun
dari cicit cicitnya cicit moyang kami
para pembangun rumah tanah
di alas warisan moyang ratu induk.
di alas baru ini kami tetap taat beribadah
melaksanakan perintah tuhan
kami tetap bahu-membahu
menyatukan tangan dan kaki kami yang kecil
di antara tarian sendok semen
di antara deruan buldozer
di antara derap selinder.
kami sekarang membangun rumah tanah
di atas lantai semen, konblok, tembok
marmer, keramik, granit, plastik
dan kami terus bekerja
menggigit, memotong, menggotong
mengumpulkan remah-remah semen.
kulit jari-jari tangan kami melepuh
gigi-gigi kami gemetar gemeretak
beberapa tanggal gusinya berdarah.
saudara-saudara bangsa manusia
kami para pembangun rumah tanah
telah kehilangan tanah
tapi tak pernah kehilangan
nyala merah dalam darah.
Tangerang, 23-7-2016
(Puisi untuk antologi Lumbung Puisi IV
Sanggar Meronte Jaring, Indramayu)
Puisi Anak
BERAWAL DARI SINI
anak-anak berteriak keras
karena kita tak berkata lembut
anak-anak bertingkah kasar
karena kita tak berperilaku santun
sedangkan buah tak jatuh sangat jauh
dari pohonnya.
anak-anak tak membaca
karena layar terus menyala
anak-anak tak mengkaji
karena terpola pikir cepat saji
sedangkan deadline zaman terus berputar
dengan segala kekerasan lunaknya.
lalu sebagian kita, lebih banyak menunjuk
daripada merengkuh dan memeluk
lebih banyak berwacana berdiskusi
daripada menjadi model pekerti sehari-hari.
sedangkan anak-anak terus menyimak
pertarungan di layar menyala lewat sticknya
dan sesekali menangkap suara berisik
diskusi bapak-ibunya di ruang tamu
di ruang keluarga atau di dapur
dengan level nada-nada tinggi,
semua berawal dari sini.
Tangerang, 15 Juli 2016
anak-anak berteriak keras
karena kita tak berkata lembut
anak-anak bertingkah kasar
karena kita tak berperilaku santun
sedangkan buah tak jatuh sangat jauh
dari pohonnya.
anak-anak tak membaca
karena layar terus menyala
anak-anak tak mengkaji
karena terpola pikir cepat saji
sedangkan deadline zaman terus berputar
dengan segala kekerasan lunaknya.
lalu sebagian kita, lebih banyak menunjuk
daripada merengkuh dan memeluk
lebih banyak berwacana berdiskusi
daripada menjadi model pekerti sehari-hari.
sedangkan anak-anak terus menyimak
pertarungan di layar menyala lewat sticknya
dan sesekali menangkap suara berisik
diskusi bapak-ibunya di ruang tamu
di ruang keluarga atau di dapur
dengan level nada-nada tinggi,
semua berawal dari sini.
Tangerang, 15 Juli 2016
(Dimuat di antologi Memo Anti Kekerasan
Jumat, 05 Agustus 2016
Puisi Wayang "Pandawa Samsara"
Navys Ahmad
PANDAWA SAMSARA
"Lemparlah semua hasrat
lepaskan tali kekang nafsumu
mari menari bersama putaran dadu
Kurawa samsara Pandawa digdaya"
maka melesatlah kuda hasrat Pandawa
dilecut kobaran api Kurawa
semakin menang semakin kencang lari kuda
hasrat para ksatria Pandawa budak nafsu Hastina.
menumpuklah segala harta hingga yang terakhir
tersisa dari amunisi pertempuran hasrat Kurawa.
"Tanah Hastina adalah pertaruhan terakhir
beranilah ksatria lemparkanlah dadumu sendiri"
maka berputarlah pertaruhan negara
dilecut kobaran api nafsu Kurawa
semakin kencang putaran dadu semakin
tipislah batas samsara dan digdaya
Traaak...
bersoraklah seratus saudara Kurawa
Indraprasta jadilah genggaman kuasa mereka
digdaya adalah mereka
"Segala ruang dan isi istana adalah kami
maka kecantikan Drupadi juga adalah kami."
hilang harta hilang muka hilang tahta
hilang harga hilang diri hilang nurani
di atas pertaruhan nasib dan harga diri
Kurawa digdaya Pandawa samsara.
28/02/2016
Dari buku antologi Tancep Kayon,
Yayasan Leksika Bogor, Juli 2016
PANDAWA SAMSARA
"Lemparlah semua hasrat
lepaskan tali kekang nafsumu
mari menari bersama putaran dadu
Kurawa samsara Pandawa digdaya"
maka melesatlah kuda hasrat Pandawa
dilecut kobaran api Kurawa
semakin menang semakin kencang lari kuda
hasrat para ksatria Pandawa budak nafsu Hastina.
menumpuklah segala harta hingga yang terakhir
tersisa dari amunisi pertempuran hasrat Kurawa.
"Tanah Hastina adalah pertaruhan terakhir
beranilah ksatria lemparkanlah dadumu sendiri"
maka berputarlah pertaruhan negara
dilecut kobaran api nafsu Kurawa
semakin kencang putaran dadu semakin
tipislah batas samsara dan digdaya
Traaak...
bersoraklah seratus saudara Kurawa
Indraprasta jadilah genggaman kuasa mereka
digdaya adalah mereka
"Segala ruang dan isi istana adalah kami
maka kecantikan Drupadi juga adalah kami."
hilang harta hilang muka hilang tahta
hilang harga hilang diri hilang nurani
di atas pertaruhan nasib dan harga diri
Kurawa digdaya Pandawa samsara.
28/02/2016
Dari buku antologi Tancep Kayon,
Yayasan Leksika Bogor, Juli 2016
Langganan:
Postingan (Atom)










