Minggu, 14 Agustus 2016

Puisi Anak

TIDURLAH, NAK

Sudah larut, bayiku tak juga pejamkan mata
Bola kristalnya berputar melawan arah jarum jam
Semakin bulat matanya semakin merapat mataku

Nak, tidurlah! Tak perlu membaca pikiran bapakmu
Tak perlu tahu bapakmu hutang susu di warung Bu Mumu

Sudah larut, bayiku tak juga bermimpi
Senyumnya mengaluni irama nina boboku
Semakin lebar senyumnya semakin perih rasaku

Nak tidurlah! Tak perlu tersenyum manis seperti itu
Tak perlu tahu tadi sore  ibumu merengek tambahan jatah uang dapur

Tidurlah, Nak!
Tak perlu bermimpi : besok kemana lagi bapakmu cari hutangan.

Tangerang, 31-5-2016

Dikirim ke antologi Sakkarepmu, Agustus 2016

Sabtu, 13 Agustus 2016

Puisi Alam

TANAH AIR LELUHUR

tanah dan air dikuasai oleh negara
dan digunakan sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyat

itulah kalimat sakti yang termaktub dalam undang-undang negeri kami
 ajian para pendiri negeri pengusir setan kapitalis imperialis
tekad kuat para pemuda yang bersumpah tumpah darah satu
mantra pengikat nusantara di bawah sumpah palapa

tapi apa benar kalimat itu masih sakti?

syahdan, ratusan abad setelah gajah mada moksa
setelah hampir seabad sumpah pemuda menua
sesudah puluhan tahun negeri kami katanya merdeka
konon, kalimat itu tidaklah sakti lagi

tanah leluhur kami yang bersawah-sawah dan berlurah-lurah
berganti bangunan pabrik berasap-asap dan berlimbah-limbah
tanah leluhur kami yang berhektar-hektar dan bergirik-girik
bersulap  apartemen mewah bersertifikat asing hak milik

di tanah leluhur kami bebas bergerak bertindak
di tanah leluhur kami tuan bukan budak
tapi sekarang di tanah kontrak kami berhimpit sesak
di tanah kontrak kami benar-benar jadi budak

dan air leluhur pun tidak lagi jadi milik rakyat
air jernih pegunungan disedot ke mobil tangki
berkubik-kubik mereka disekap dalam botol gelas plastik
dan wajib  ditebus oleh rakyat
lalu ratusan dolar memenuhi rekening
bos-bos asing yang ongkang-ongkang girang
jauh dari nusantara kami

air murah untuk rakyat
adalah sulingan  sungai yang melimbah-limbah
air murah untuk rakyat
adalah kekuningan dan berbau-bau busuk
air rakyat adalah mata air dari toilet konglomerat
air rakyat adalah air mata jelata melarat

o, tanah leluhurku dirampas  kapitalis imperialis
air leluhurku disedot habis mulut-mulut konglomerat
kembalikan tanah leluhurku
kembailikan mata airku
kembalikan tanah air leluhurku
kembalikan!

10-11-'13
Dimuat di majalah Medika BDK Kemenag
2013


Puisi Alam

NEGERI LAUT

Adakah yang tak bisa dinikmati
Dari sebuah negeri bernama laut?

Terumbu karangnya adalah surga para ikan
Airnya adalah emas putih para petani rasa
Rumputnya adalah racikan mutu para peramu

Adakah yang tak bisa dinikmati
Dari sebuah negeri bernama laut?

Ikannya adalah rejeki jutaan para nelayan
Kerangnya adalah hiasan cantik para pengrajin
Karangnya adalah dinding kokoh istana kerajaan

Adakah yang tak bisa dinikmati
Dari sebuah negeri bernama laut?

Anginnya adalah laju dapur para pelaut
Ombaknya adalah landasan pacu  peselancar
Pasirnya adalah senyum ceria desir hari para pelesir

Adakah yang tak bisa dinikmati
Dari sebuah negeri bernama laut?

30-5-2016

Dikirim ke antologi puisi Negeri Awan

Puisi Alam

KISAH NEGERI AWAN

Kisahkan, kisahkanlah kepada  anak-anak
Yang bermain ceria di halaman rumah kita
Tentang indahnya paduan warna di kanvas raya

Kisahkan juga, genangan di got dan kolam
Yang melayang perlahan merupa  mendung
Lalu  meneteskan berkah kesuburan di persada

Kisahkan pula, ruang-ruang kosong itu
Adalah perisai diri sang bumi dari kemilau sang surya
Dan di bawahnya, anak cucu kita asyik bermain kelereng

Kelak dewasa, mereka akan mereka-reka kembali
Tentang hikmah sang kisah negeri awan
Tentang keindahan, kesabaran, dan kesetiaan
Dan kelak, mereka akan turun-temurun mengisahkannya.

                                    Tangerang, 31-5-2016

Dikirim ke antologi puisi Kisah Negeri Awan, Mei 2016

Puisi Alam

MONOLOG DAUN

jika ada tangkai  yang meranggas  dengan  kulit  kelupas
kepada siapa aku menulis surat tentang perih menahun ini
jika ada batang menghitam di antara kepulan asap kelam
kepada siapa aku kirimkan tanya tentang penanggung laku

dan angin terik berdesau di antara renjai yang kering:
tak ada pemberi alamat tak ada pemberi jawab
lupakan saja kisah keluh pedih perih ini

bertahun bahkan berabad peradaban
kami harus setia menjalani takdir
sebagai penanggung luka

biarkan kami meregang
lalu mati.

Tangerang, 5-7-2016

Dimuat di antologi puisi Peduli Hutan
Tuas Media Publisher, Kalimantan Selatan
 Agustus 2016




Minggu, 07 Agustus 2016

Puisi Alam

SALAM DARI KAMI

jika kau tebang ratusan rumah pohon kami
di manakah anak-cucu kami kelak berayun
berloncatan, bahkan terkadang terjatuh

mereka begitu polos tak pernah paham masa depan
tak ambil pusing masalah berat yang menimpa
yang mereka pikirkan adalah bermain dan makan
bermain di atas dedaun rimba raya dan menikmati
hidangan berkah alam raya di bawah kucuran hujan

mereka tidak seperti kami para orang tua yang meratap
meratap pada nasib meratap pada hukum alam keseimbangan
ya, kami telah banyak makan buah kesabaran atas tumbangnya
rumah-rumah harapan kami yang digergaji mesin, dibelah, dihiris
lalu dibawa ke kota-kota peradaban yang melindunghangatkan
anak-anak para penghuninya begitu cinta dan mesra

sedangkan anak-anak cucu kami terpasung di batang hitam
tertusuk asap tebal, terkapar mengerang di hamparan arang.

salam dari kami,
Para monyet
Para burung
Para semut
Para satwa.      

   - Tangerang, 7 Juli 2016
Puisi untuk antologi Lumbung Puisi IV


Sabtu, 06 Agustus 2016

Puisi Alam

PENADAH DUKA
Navys Ahmad

sewaktu sayatan menoreh luka
        tak ada teriak nyeri  meleleh kata
sewaktu limbah panas merayapi tubuh
        tak ada geliat resah dan keluh

sewaktu merah bara menyisakan kisah pedih
        tak ada amarah tak ada ratap meringkih
bahkan  sewaktu insan menitipkan jasad duka
        tak ada celah tertutup tak ada dengki di jiwa

tak teriak, tak mengeluh ia
tak meringkih, tak mendengki ia
tanah pasrah pada kodrat: menjadi penadah duka

Tangerang,  Juni 2016

Dimuat di antologi Sajak-sajak Anak Negeri, True Indonesian Rhyme Legion, Bogor

Puisi Alam

SUNGAI

pada riak-riak wajahmu
ada kanak-kanak mengukir pelangi
dengan butiran bebuih yang mewarna
dan rerumput yang mengoles cerita
di atas kanvas alam

di hamparan bebatu besar kecil
ada ceria perawan-perawan membasuh kain
di antara cerita tentang kumbang-kumbang
yang merayu kembang-kembang
di halaman

pada ikan-ikan yang mengejar umpan
ada harapan para pemancing
tentang rejeki hari ini
dan keluh tentang sisa beras
untuk esok lusa

tentang ceria kanak-kanak,
cerita perawan-perawan
keluh hidup para pemancing, engkau adalah pendengar setia

hingga kini kisah terus menoreh tinta kelam di wajahmu
pada riak-riakmu, berjuta kubik sampah keserakahan berserakan
melumuri dan menyesakkan hirup napas bebuih

bebatu besar kecil merintih berkeping-keping
dipalu pesanan istana impian di kota-kota besar
pun pepasir meluruh pedih dari garis bibirmu

ikan-ikan mengunyah sobekan limbah plastik
dan para pemancing berkeluh tentang beras penuh kutu
dan ikan-ikan yang mati di pinggir sungai

tentang cerita kanak-kanak, cerita perawan-perawan
keluh hidup para bapak, sekali lagi:
engkau tetap pendengar setia

Tangerang, 15 Maret 2015

(Dimuat di antologi Arus Sungai,
Tuas Media Publisher, Kalsel, 2016)


Puisi Alam



MONOLOG PARA PEMBANGUN
RUMAH TANAH

saudara-saudara  bangsa manusia
berjuta tahun lalu kami  membangun rumah tanah
di alas warisan nenek moyang ratu induk
rumah yang menumbuh dari ludah-ludah
yang merekat kuat bertingkat-tingkat
berkamar-kamar yang di dalamnya
kami  bertelur, beranak-pinak
cucu-mencucu, cicit-mencicit.

berjuta tahun lalu kami bahu-membahu
kaki-mengkaki, tangan-menangan
dalam racauan kemelut suara  alam
dalam tiupan  hujan  tarian  topan
rumah kami tak hancur
rumah kami  hanya merapuh.

di alas ini kami taat beribadah
melaksanakan perintah tuhan
menggigit, memotong, menggotong
mengumpulkan remah-remah pohon
tak ada yang menyembunyikan
tak ada yang mengambil hak bersama
tak ada yang menyakiti saudara.

saudara-saudara bangsa manusia
kami yang bicara sekarang
adalah generasi  cicit jutaan tahun
dari cicit cicitnya cicit moyang kami
para  pembangun rumah tanah
di alas warisan moyang ratu induk.

di alas baru ini kami tetap taat beribadah
melaksanakan perintah tuhan
kami tetap bahu-membahu
menyatukan tangan dan kaki kami yang kecil
di antara tarian sendok semen
di antara  deruan buldozer
di antara derap selinder.

kami sekarang membangun rumah tanah
di atas lantai semen,  konblok, tembok
marmer, keramik, granit, plastik
dan kami terus bekerja
menggigit, memotong, menggotong
mengumpulkan remah-remah semen.

kulit jari-jari tangan kami melepuh
gigi-gigi kami gemetar gemeretak
beberapa tanggal gusinya berdarah.

saudara-saudara bangsa manusia
kami para pembangun rumah tanah
telah kehilangan tanah
tapi tak pernah kehilangan
nyala merah dalam darah.

Tangerang, 23-7-2016

(Puisi untuk antologi Lumbung Puisi IV
Sanggar Meronte Jaring, Indramayu)

Puisi Anak

BERAWAL DARI SINI

anak-anak berteriak keras
karena kita tak berkata lembut
anak-anak bertingkah kasar
karena kita tak berperilaku santun
sedangkan buah tak jatuh sangat jauh
dari pohonnya.

anak-anak tak membaca
karena layar terus menyala
anak-anak tak mengkaji
karena terpola pikir cepat saji
sedangkan deadline zaman terus berputar
dengan segala kekerasan lunaknya.

lalu sebagian kita, lebih banyak menunjuk
daripada merengkuh dan memeluk
lebih banyak berwacana berdiskusi
daripada menjadi model pekerti sehari-hari.

sedangkan anak-anak terus menyimak
pertarungan di layar menyala lewat sticknya
dan sesekali menangkap suara berisik
diskusi bapak-ibunya di ruang tamu
di ruang keluarga atau di dapur
dengan level nada-nada  tinggi,

semua berawal dari sini.

                        Tangerang, 15 Juli 2016

(Dimuat di antologi Memo Anti Kekerasan
terhadap Anak, Forum Sastra Surakarta, Agustus 2016)

Jumat, 05 Agustus 2016

Puisi Wayang "Pandawa Samsara"

Navys Ahmad

PANDAWA SAMSARA

"Lemparlah semua hasrat
lepaskan tali kekang nafsumu
mari menari bersama putaran dadu
Kurawa samsara Pandawa digdaya"

maka melesatlah kuda hasrat Pandawa
dilecut kobaran api Kurawa
semakin menang semakin kencang lari kuda
hasrat para ksatria Pandawa budak nafsu Hastina.
menumpuklah segala harta hingga yang terakhir
tersisa dari amunisi pertempuran hasrat Kurawa.

"Tanah Hastina adalah pertaruhan terakhir
beranilah ksatria lemparkanlah dadumu sendiri"

maka berputarlah pertaruhan negara
dilecut kobaran api nafsu Kurawa
semakin kencang putaran dadu semakin
tipislah batas samsara dan digdaya

Traaak...
bersoraklah seratus saudara Kurawa
Indraprasta jadilah genggaman kuasa mereka
digdaya adalah mereka

"Segala ruang dan isi istana adalah kami
maka kecantikan Drupadi juga adalah kami."

hilang harta hilang muka hilang tahta
hilang harga hilang diri hilang nurani
di atas pertaruhan nasib dan harga diri
Kurawa digdaya Pandawa samsara.

28/02/2016

Dari buku antologi Tancep Kayon,
Yayasan Leksika Bogor, Juli 2016