Selain puisi, kunjungi juga blog buku Madrasah Literasi.
www.madrasahliterasi.blogspot.co.id
Buku ini merupakan catatan pengalaman penerapan gerakan literasi sekolah. Tim gerakan literasi madrasah MTsN 2 Tangerang menerapkan berbagai upaya literasi dari nol hingga mencapai hasil yang baik.
Buku best practice ini dapat menjadi pilihan panduan literasi sekolah bagi pendidik, pustakawan, kepala sekolah, pengawas, orang tua, pengambil kebijakan Diknas dan Kemenag, instansi/lembaga literasi, serta komunitas literasi.
Puisi Navys Ahmad
Sabtu, 21 April 2018
Minggu, 14 Agustus 2016
Puisi Anak
TIDURLAH, NAK
Sudah larut, bayiku tak juga pejamkan mata
Bola kristalnya berputar melawan arah jarum jam
Semakin bulat matanya semakin merapat mataku
Nak, tidurlah! Tak perlu membaca pikiran bapakmu
Tak perlu tahu bapakmu hutang susu di warung Bu Mumu
Sudah larut, bayiku tak juga bermimpi
Senyumnya mengaluni irama nina boboku
Semakin lebar senyumnya semakin perih rasaku
Nak tidurlah! Tak perlu tersenyum manis seperti itu
Tak perlu tahu tadi sore ibumu merengek tambahan jatah uang dapur
Tidurlah, Nak!
Tak perlu bermimpi : besok kemana lagi bapakmu cari hutangan.
Tangerang, 31-5-2016
Dikirim ke antologi Sakkarepmu, Agustus 2016
Sudah larut, bayiku tak juga pejamkan mata
Bola kristalnya berputar melawan arah jarum jam
Semakin bulat matanya semakin merapat mataku
Nak, tidurlah! Tak perlu membaca pikiran bapakmu
Tak perlu tahu bapakmu hutang susu di warung Bu Mumu
Sudah larut, bayiku tak juga bermimpi
Senyumnya mengaluni irama nina boboku
Semakin lebar senyumnya semakin perih rasaku
Nak tidurlah! Tak perlu tersenyum manis seperti itu
Tak perlu tahu tadi sore ibumu merengek tambahan jatah uang dapur
Tidurlah, Nak!
Tak perlu bermimpi : besok kemana lagi bapakmu cari hutangan.
Tangerang, 31-5-2016
Dikirim ke antologi Sakkarepmu, Agustus 2016
Sabtu, 13 Agustus 2016
Puisi Alam
TANAH AIR LELUHUR
tanah dan air dikuasai oleh negara
dan digunakan sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyat
itulah kalimat sakti yang termaktub dalam undang-undang negeri kami
ajian para pendiri negeri pengusir setan kapitalis imperialis
tekad kuat para pemuda yang bersumpah tumpah darah satu
mantra pengikat nusantara di bawah sumpah palapa
tapi apa benar kalimat itu masih sakti?
syahdan, ratusan abad setelah gajah mada moksa
setelah hampir seabad sumpah pemuda menua
sesudah puluhan tahun negeri kami katanya merdeka
konon, kalimat itu tidaklah sakti lagi
tanah leluhur kami yang bersawah-sawah dan berlurah-lurah
berganti bangunan pabrik berasap-asap dan berlimbah-limbah
tanah leluhur kami yang berhektar-hektar dan bergirik-girik
bersulap apartemen mewah bersertifikat asing hak milik
di tanah leluhur kami bebas bergerak bertindak
di tanah leluhur kami tuan bukan budak
tapi sekarang di tanah kontrak kami berhimpit sesak
di tanah kontrak kami benar-benar jadi budak
dan air leluhur pun tidak lagi jadi milik rakyat
air jernih pegunungan disedot ke mobil tangki
berkubik-kubik mereka disekap dalam botol gelas plastik
dan wajib ditebus oleh rakyat
lalu ratusan dolar memenuhi rekening
bos-bos asing yang ongkang-ongkang girang
jauh dari nusantara kami
air murah untuk rakyat
adalah sulingan sungai yang melimbah-limbah
air murah untuk rakyat
adalah kekuningan dan berbau-bau busuk
air rakyat adalah mata air dari toilet konglomerat
air rakyat adalah air mata jelata melarat
o, tanah leluhurku dirampas kapitalis imperialis
air leluhurku disedot habis mulut-mulut konglomerat
kembalikan tanah leluhurku
kembailikan mata airku
kembalikan tanah air leluhurku
kembalikan!
10-11-'13
Dimuat di majalah Medika BDK Kemenag
2013
tanah dan air dikuasai oleh negara
dan digunakan sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyat
itulah kalimat sakti yang termaktub dalam undang-undang negeri kami
ajian para pendiri negeri pengusir setan kapitalis imperialis
tekad kuat para pemuda yang bersumpah tumpah darah satu
mantra pengikat nusantara di bawah sumpah palapa
tapi apa benar kalimat itu masih sakti?
syahdan, ratusan abad setelah gajah mada moksa
setelah hampir seabad sumpah pemuda menua
sesudah puluhan tahun negeri kami katanya merdeka
konon, kalimat itu tidaklah sakti lagi
tanah leluhur kami yang bersawah-sawah dan berlurah-lurah
berganti bangunan pabrik berasap-asap dan berlimbah-limbah
tanah leluhur kami yang berhektar-hektar dan bergirik-girik
bersulap apartemen mewah bersertifikat asing hak milik
di tanah leluhur kami bebas bergerak bertindak
di tanah leluhur kami tuan bukan budak
tapi sekarang di tanah kontrak kami berhimpit sesak
di tanah kontrak kami benar-benar jadi budak
dan air leluhur pun tidak lagi jadi milik rakyat
air jernih pegunungan disedot ke mobil tangki
berkubik-kubik mereka disekap dalam botol gelas plastik
dan wajib ditebus oleh rakyat
lalu ratusan dolar memenuhi rekening
bos-bos asing yang ongkang-ongkang girang
jauh dari nusantara kami
air murah untuk rakyat
adalah sulingan sungai yang melimbah-limbah
air murah untuk rakyat
adalah kekuningan dan berbau-bau busuk
air rakyat adalah mata air dari toilet konglomerat
air rakyat adalah air mata jelata melarat
o, tanah leluhurku dirampas kapitalis imperialis
air leluhurku disedot habis mulut-mulut konglomerat
kembalikan tanah leluhurku
kembailikan mata airku
kembalikan tanah air leluhurku
kembalikan!
10-11-'13
Dimuat di majalah Medika BDK Kemenag
2013
Puisi Alam
NEGERI LAUT
Adakah yang tak bisa dinikmati
Dari sebuah negeri bernama laut?
Terumbu karangnya adalah surga para ikan
Airnya adalah emas putih para petani rasa
Rumputnya adalah racikan mutu para peramu
Adakah yang tak bisa dinikmati
Dari sebuah negeri bernama laut?
Ikannya adalah rejeki jutaan para nelayan
Kerangnya adalah hiasan cantik para pengrajin
Karangnya adalah dinding kokoh istana kerajaan
Adakah yang tak bisa dinikmati
Dari sebuah negeri bernama laut?
Anginnya adalah laju dapur para pelaut
Ombaknya adalah landasan pacu peselancar
Pasirnya adalah senyum ceria desir hari para pelesir
Adakah yang tak bisa dinikmati
Dari sebuah negeri bernama laut?
30-5-2016
Dikirim ke antologi puisi Negeri Awan
Adakah yang tak bisa dinikmati
Dari sebuah negeri bernama laut?
Terumbu karangnya adalah surga para ikan
Airnya adalah emas putih para petani rasa
Rumputnya adalah racikan mutu para peramu
Adakah yang tak bisa dinikmati
Dari sebuah negeri bernama laut?
Ikannya adalah rejeki jutaan para nelayan
Kerangnya adalah hiasan cantik para pengrajin
Karangnya adalah dinding kokoh istana kerajaan
Adakah yang tak bisa dinikmati
Dari sebuah negeri bernama laut?
Anginnya adalah laju dapur para pelaut
Ombaknya adalah landasan pacu peselancar
Pasirnya adalah senyum ceria desir hari para pelesir
Adakah yang tak bisa dinikmati
Dari sebuah negeri bernama laut?
30-5-2016
Dikirim ke antologi puisi Negeri Awan
Puisi Alam
KISAH NEGERI AWAN
Kisahkan, kisahkanlah kepada anak-anak
Yang bermain ceria di halaman rumah kita
Tentang indahnya paduan warna di kanvas raya
Kisahkan juga, genangan di got dan kolam
Yang melayang perlahan merupa mendung
Lalu meneteskan berkah kesuburan di persada
Kisahkan pula, ruang-ruang kosong itu
Adalah perisai diri sang bumi dari kemilau sang surya
Dan di bawahnya, anak cucu kita asyik bermain kelereng
Kelak dewasa, mereka akan mereka-reka kembali
Tentang hikmah sang kisah negeri awan
Tentang keindahan, kesabaran, dan kesetiaan
Dan kelak, mereka akan turun-temurun mengisahkannya.
Tangerang, 31-5-2016
Dikirim ke antologi puisi Kisah Negeri Awan, Mei 2016
Kisahkan, kisahkanlah kepada anak-anak
Yang bermain ceria di halaman rumah kita
Tentang indahnya paduan warna di kanvas raya
Kisahkan juga, genangan di got dan kolam
Yang melayang perlahan merupa mendung
Lalu meneteskan berkah kesuburan di persada
Kisahkan pula, ruang-ruang kosong itu
Adalah perisai diri sang bumi dari kemilau sang surya
Dan di bawahnya, anak cucu kita asyik bermain kelereng
Kelak dewasa, mereka akan mereka-reka kembali
Tentang hikmah sang kisah negeri awan
Tentang keindahan, kesabaran, dan kesetiaan
Dan kelak, mereka akan turun-temurun mengisahkannya.
Tangerang, 31-5-2016
Dikirim ke antologi puisi Kisah Negeri Awan, Mei 2016
Puisi Alam
MONOLOG DAUN
jika ada tangkai yang meranggas dengan kulit kelupas
kepada siapa aku menulis surat tentang perih menahun ini
jika ada batang menghitam di antara kepulan asap kelam
kepada siapa aku kirimkan tanya tentang penanggung laku
dan angin terik berdesau di antara renjai yang kering:
tak ada pemberi alamat tak ada pemberi jawab
lupakan saja kisah keluh pedih perih ini
bertahun bahkan berabad peradaban
kami harus setia menjalani takdir
sebagai penanggung luka
biarkan kami meregang
lalu mati.
Tangerang, 5-7-2016
Dimuat di antologi puisi Peduli Hutan
Tuas Media Publisher, Kalimantan Selatan
Agustus 2016
jika ada tangkai yang meranggas dengan kulit kelupas
kepada siapa aku menulis surat tentang perih menahun ini
jika ada batang menghitam di antara kepulan asap kelam
kepada siapa aku kirimkan tanya tentang penanggung laku
dan angin terik berdesau di antara renjai yang kering:
tak ada pemberi alamat tak ada pemberi jawab
lupakan saja kisah keluh pedih perih ini
bertahun bahkan berabad peradaban
kami harus setia menjalani takdir
sebagai penanggung luka
biarkan kami meregang
lalu mati.
Tangerang, 5-7-2016
Dimuat di antologi puisi Peduli Hutan
Tuas Media Publisher, Kalimantan Selatan
Agustus 2016
Minggu, 07 Agustus 2016
Puisi Alam
SALAM DARI KAMI
jika kau tebang ratusan rumah pohon kami
di manakah anak-cucu kami kelak berayun
berloncatan, bahkan terkadang terjatuh
mereka begitu polos tak pernah paham masa depan
tak ambil pusing masalah berat yang menimpa
yang mereka pikirkan adalah bermain dan makan
bermain di atas dedaun rimba raya dan menikmati
hidangan berkah alam raya di bawah kucuran hujan
mereka tidak seperti kami para orang tua yang meratap
meratap pada nasib meratap pada hukum alam keseimbangan
ya, kami telah banyak makan buah kesabaran atas tumbangnya
rumah-rumah harapan kami yang digergaji mesin, dibelah, dihiris
lalu dibawa ke kota-kota peradaban yang melindunghangatkan
anak-anak para penghuninya begitu cinta dan mesra
sedangkan anak-anak cucu kami terpasung di batang hitam
tertusuk asap tebal, terkapar mengerang di hamparan arang.
salam dari kami,
Para monyet
Para burung
Para semut
Para satwa.
- Tangerang, 7 Juli 2016
Puisi untuk antologi Lumbung Puisi IV
jika kau tebang ratusan rumah pohon kami
di manakah anak-cucu kami kelak berayun
berloncatan, bahkan terkadang terjatuh
mereka begitu polos tak pernah paham masa depan
tak ambil pusing masalah berat yang menimpa
yang mereka pikirkan adalah bermain dan makan
bermain di atas dedaun rimba raya dan menikmati
hidangan berkah alam raya di bawah kucuran hujan
mereka tidak seperti kami para orang tua yang meratap
meratap pada nasib meratap pada hukum alam keseimbangan
ya, kami telah banyak makan buah kesabaran atas tumbangnya
rumah-rumah harapan kami yang digergaji mesin, dibelah, dihiris
lalu dibawa ke kota-kota peradaban yang melindunghangatkan
anak-anak para penghuninya begitu cinta dan mesra
sedangkan anak-anak cucu kami terpasung di batang hitam
tertusuk asap tebal, terkapar mengerang di hamparan arang.
salam dari kami,
Para monyet
Para burung
Para semut
Para satwa.
- Tangerang, 7 Juli 2016
Puisi untuk antologi Lumbung Puisi IV
Langganan:
Postingan (Atom)






