Sabtu, 21 April 2018

Selain puisi, kunjungi juga blog buku Madrasah Literasi.

www.madrasahliterasi.blogspot.co.id

Buku ini merupakan catatan pengalaman penerapan gerakan literasi sekolah. Tim gerakan literasi madrasah MTsN 2 Tangerang menerapkan berbagai upaya literasi dari nol hingga mencapai hasil yang baik.

Buku best practice ini dapat menjadi pilihan panduan literasi sekolah bagi pendidik, pustakawan, kepala sekolah, pengawas, orang tua, pengambil kebijakan Diknas dan Kemenag, instansi/lembaga literasi, serta komunitas literasi.

Minggu, 14 Agustus 2016

Puisi Anak

TIDURLAH, NAK

Sudah larut, bayiku tak juga pejamkan mata
Bola kristalnya berputar melawan arah jarum jam
Semakin bulat matanya semakin merapat mataku

Nak, tidurlah! Tak perlu membaca pikiran bapakmu
Tak perlu tahu bapakmu hutang susu di warung Bu Mumu

Sudah larut, bayiku tak juga bermimpi
Senyumnya mengaluni irama nina boboku
Semakin lebar senyumnya semakin perih rasaku

Nak tidurlah! Tak perlu tersenyum manis seperti itu
Tak perlu tahu tadi sore  ibumu merengek tambahan jatah uang dapur

Tidurlah, Nak!
Tak perlu bermimpi : besok kemana lagi bapakmu cari hutangan.

Tangerang, 31-5-2016

Dikirim ke antologi Sakkarepmu, Agustus 2016

Sabtu, 13 Agustus 2016

Puisi Alam

TANAH AIR LELUHUR

tanah dan air dikuasai oleh negara
dan digunakan sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyat

itulah kalimat sakti yang termaktub dalam undang-undang negeri kami
 ajian para pendiri negeri pengusir setan kapitalis imperialis
tekad kuat para pemuda yang bersumpah tumpah darah satu
mantra pengikat nusantara di bawah sumpah palapa

tapi apa benar kalimat itu masih sakti?

syahdan, ratusan abad setelah gajah mada moksa
setelah hampir seabad sumpah pemuda menua
sesudah puluhan tahun negeri kami katanya merdeka
konon, kalimat itu tidaklah sakti lagi

tanah leluhur kami yang bersawah-sawah dan berlurah-lurah
berganti bangunan pabrik berasap-asap dan berlimbah-limbah
tanah leluhur kami yang berhektar-hektar dan bergirik-girik
bersulap  apartemen mewah bersertifikat asing hak milik

di tanah leluhur kami bebas bergerak bertindak
di tanah leluhur kami tuan bukan budak
tapi sekarang di tanah kontrak kami berhimpit sesak
di tanah kontrak kami benar-benar jadi budak

dan air leluhur pun tidak lagi jadi milik rakyat
air jernih pegunungan disedot ke mobil tangki
berkubik-kubik mereka disekap dalam botol gelas plastik
dan wajib  ditebus oleh rakyat
lalu ratusan dolar memenuhi rekening
bos-bos asing yang ongkang-ongkang girang
jauh dari nusantara kami

air murah untuk rakyat
adalah sulingan  sungai yang melimbah-limbah
air murah untuk rakyat
adalah kekuningan dan berbau-bau busuk
air rakyat adalah mata air dari toilet konglomerat
air rakyat adalah air mata jelata melarat

o, tanah leluhurku dirampas  kapitalis imperialis
air leluhurku disedot habis mulut-mulut konglomerat
kembalikan tanah leluhurku
kembailikan mata airku
kembalikan tanah air leluhurku
kembalikan!

10-11-'13
Dimuat di majalah Medika BDK Kemenag
2013


Puisi Alam

NEGERI LAUT

Adakah yang tak bisa dinikmati
Dari sebuah negeri bernama laut?

Terumbu karangnya adalah surga para ikan
Airnya adalah emas putih para petani rasa
Rumputnya adalah racikan mutu para peramu

Adakah yang tak bisa dinikmati
Dari sebuah negeri bernama laut?

Ikannya adalah rejeki jutaan para nelayan
Kerangnya adalah hiasan cantik para pengrajin
Karangnya adalah dinding kokoh istana kerajaan

Adakah yang tak bisa dinikmati
Dari sebuah negeri bernama laut?

Anginnya adalah laju dapur para pelaut
Ombaknya adalah landasan pacu  peselancar
Pasirnya adalah senyum ceria desir hari para pelesir

Adakah yang tak bisa dinikmati
Dari sebuah negeri bernama laut?

30-5-2016

Dikirim ke antologi puisi Negeri Awan

Puisi Alam

KISAH NEGERI AWAN

Kisahkan, kisahkanlah kepada  anak-anak
Yang bermain ceria di halaman rumah kita
Tentang indahnya paduan warna di kanvas raya

Kisahkan juga, genangan di got dan kolam
Yang melayang perlahan merupa  mendung
Lalu  meneteskan berkah kesuburan di persada

Kisahkan pula, ruang-ruang kosong itu
Adalah perisai diri sang bumi dari kemilau sang surya
Dan di bawahnya, anak cucu kita asyik bermain kelereng

Kelak dewasa, mereka akan mereka-reka kembali
Tentang hikmah sang kisah negeri awan
Tentang keindahan, kesabaran, dan kesetiaan
Dan kelak, mereka akan turun-temurun mengisahkannya.

                                    Tangerang, 31-5-2016

Dikirim ke antologi puisi Kisah Negeri Awan, Mei 2016

Puisi Alam

MONOLOG DAUN

jika ada tangkai  yang meranggas  dengan  kulit  kelupas
kepada siapa aku menulis surat tentang perih menahun ini
jika ada batang menghitam di antara kepulan asap kelam
kepada siapa aku kirimkan tanya tentang penanggung laku

dan angin terik berdesau di antara renjai yang kering:
tak ada pemberi alamat tak ada pemberi jawab
lupakan saja kisah keluh pedih perih ini

bertahun bahkan berabad peradaban
kami harus setia menjalani takdir
sebagai penanggung luka

biarkan kami meregang
lalu mati.

Tangerang, 5-7-2016

Dimuat di antologi puisi Peduli Hutan
Tuas Media Publisher, Kalimantan Selatan
 Agustus 2016




Minggu, 07 Agustus 2016

Puisi Alam

SALAM DARI KAMI

jika kau tebang ratusan rumah pohon kami
di manakah anak-cucu kami kelak berayun
berloncatan, bahkan terkadang terjatuh

mereka begitu polos tak pernah paham masa depan
tak ambil pusing masalah berat yang menimpa
yang mereka pikirkan adalah bermain dan makan
bermain di atas dedaun rimba raya dan menikmati
hidangan berkah alam raya di bawah kucuran hujan

mereka tidak seperti kami para orang tua yang meratap
meratap pada nasib meratap pada hukum alam keseimbangan
ya, kami telah banyak makan buah kesabaran atas tumbangnya
rumah-rumah harapan kami yang digergaji mesin, dibelah, dihiris
lalu dibawa ke kota-kota peradaban yang melindunghangatkan
anak-anak para penghuninya begitu cinta dan mesra

sedangkan anak-anak cucu kami terpasung di batang hitam
tertusuk asap tebal, terkapar mengerang di hamparan arang.

salam dari kami,
Para monyet
Para burung
Para semut
Para satwa.      

   - Tangerang, 7 Juli 2016
Puisi untuk antologi Lumbung Puisi IV